Contoh Teks Kritik

Contoh teks kritik dan esai merupakan dua jenis tulisan yang mempunyai kemiripan dikarenakan keduanya sama-sama mengungkapkan pendapat atau argumen.

Adapun tujuan membuat kritik dan esai yaitu untuk membantu melatih dan mengasah kemampuan menulis. Karena seperti yang kita tahu, menulis merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk menata logika berpikir dan mengasah kepekaan.

Contoh Teks Kritik Sastra

Hatiku Selembar Daun
Karya: Sapardi Djoko Damono

Hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput

Nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini
Ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput

Sesaat adalah abadi
Sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi

Kritik sastra yang disampaikan:

Puisi berjudul “Hatiku Selembar Daun” ini bermakna tentang seorang yang mencoba meratapi nasib dan sikapnya selama ia hidup. Ia menyadari bahwa kehidupannya tidak akan abadi, dan semua yang telah ia lakukan takkan terulang. Ia pun menyesali semua perbuatannya. Lalu ia mencoba merubah sikap buruknya namun waktunya sudah hampir habis, sehingga ia mencoba melakukan yang terbaik sebelum kematiannya tiba walau hanya sebentar.

Contoh Teks Kritik dan Esai

Pada poin kedua kami bagi menjadi dua macam, yaitu antara teks kritik dan teks esai. Berikut masing-masing contohnya.

Contoh Kritik tentang Kesehatan

Judul: Polemik Kartu Indonesia Sehat (KIS)

Pada umumnya para politikus, masyarakat, dan media massa berpadangan bahwa masalah kesehatan di Indonesia adalah masalah sulitnya orang miskin mendapatkan pelayanan pengobatan ketika sakit. Oleh karena itu, solusi yang bisa diterapkan untuk mengatasi hal tersebut adalah menambah  rumah sakit, puskesmas (balai pengobatan), penyediaan dokter, dan skema pembiayaan kesehatan bagi masyarakat miskin.

Joko Widodo mungkin pernah berhasil dengan program Kartu Sehat di Kota Solo dan berasumsi bahwa cara itu juga akan berhasil diterapkan di seluruh Indonesia. Untuk itu, beliau mengajukan konsep Kartu Indonesia Sehat (KIS). Namun, seperti yang kita tahu Indonesia bukanlah Solo atau Jakarta yang sudah mempunyai sarana pelayanan kesehatan yang memadai dan sarana transportasi serta komunikasi yang sudah baik.

Konsep penyelesaian masalah kesehatan rakyat dengan penekanan pada pengobatan, seperti penggunaan KIS, memang secara politis cukup menarik. Sebab, pemerintah terkesan “baik hati” dengan memperhatikan kesehatan rakyat. Demikian pula pembangunan sarana pengobatan, baik rumah sakit maupun puskesmas (balai pengobatan), mengesankan hasil pembangunan dalam waktu singkat tampak bentuknya. Hal ini jelas berbeda dengan program pencegahan yang hasilnya tidak segera tampak secara dramatis.

Suatu hal yang juga mungkin kurang disadari para elite politik adalah program kuratif memerlukan sarana yang mahal. Sebab, selain bangunan fisik, diperlukan pula sejumlah tenaga profesional dan teknologi yang memadai. Sementara itu, cakupannya sebatas orang yang datang berobat. Semakin lama, biayanya pun semakin mahal. Di sisi lain, secara kultural, masyarakat hanya akan berobat ke sarana itu setelah penyakitnya terasa sudah parah sehingga biaya pengobatannya pun akan lebih mahal.

Konsep KIS memang menjanjikan bahwa pemerintah akan menanggung biaya pengobatan, tapi tidak menjamin bahwa seorang pengidap TBC, misalnya, akan datang ke puskesmas pada fase awal penyakitnya. Padahal, pada fase ini pengobatan akan lebih mudah dan lebih murah.

KIS juga tidak akan menjamin bahwa orang tua akan menjaga anak-anaknya dari bahaya asap rokok di rumah supaya tidak mudah sakit. Di samping itu, program ini tidak akan membuat seseorang berusaha menghindari penyakit, termasuk penyakit menular seksual.

Untuk itu, visi kesehatan pemerintah yang terpaku pada aspek kuratif akan mengecoh diri sendiri. Visi kesehatan pemerintah seharusnya tidak terpaku pada bantuan terhadap rakyat miskin untuk membayar biaya pengobatannya.

Visi kesehatan pemerintah seharusnya mencita-citakan rakyat Indonesia yang tidak gampang jatuh sakit, sehingga mampu hidup lebih produktif. Contoh, pemerintah Kota Bangkok mempunyai visi bahwa pada 1998 tidak ada lagi perempuan di Kota Bangkok yang meninggal karena kehamilannya. Hal ini diwujudkan bukan dengan membuka tempat persalinan yang banyak, melainkan menjamin bahwa setiap kehamilan berlangsung secara sehat sejak awal.

Karena itu, tugas menteri kesehatan bukan hanya menyebarkan dokter dan perawat ke seluruh pelosok negeri atau menyediakan rumah sakit di mana-mana. Tugas menteri kesehatan adalah menjaga agar rakyat tidak jatuh sakit, sehingga menghemat biaya pengobatan. Bukan hanya biaya yang dari pemerintah, tapi juga yang dibayar sendiri oleh rakyat, baik langsung maupun tidak langsung.

Dengan begitu, uang yang dialokasikan untuk pengobatan dapat digunakan untuk hal yang lebih produktif dan meningkatkan daya tabung keluarga. Di samping itu, rakyat yang selalu dalam keadaan sehat juga akan menjadi sumber daya manusia yang lebih tangguh.

Sudah seharusnya presiden melihat bahwa program kesehatan bukanlah program untuk menunjukkan budi baik (karitatif), melainkan sebuah program investasi untuk kepentingan ekonomi negara. Seperti kata Bismarck, kanselir Prusia (Jerman) pada awal era industrialisasi Jerman, “kalau mesin pabrik selalu dirawat agar dapat selalu berfungsi, para pekerja pun harus selalu dijaga agar mereka tetap sehat sehingga sanggup menjalankan mesin-mesin tersebut. Tanpa pekerja yang sehat, mesin-mesin itu juga tidak akan produktif.”

Patut pula dicatat bahwa konsep puskesmas yang dikembangkan oleh Dr Leimena, Menteri Kesehatan pada 1952, bukan sekadar balai pengobatan. Puskesmas adalah pusat untuk menjaga agar masyarakat di wilayah kerjanya tetap hidup sehat. Puskesmas harus diawaki oleh petugas yang mengerti soal pendidikan higiene kepada rakyat sekitarnya. Saat ini puskesmas diawaki oleh dokter yang didorong untuk berpikir kuratif, dan perawat yang dididik untuk merawat pasien di rumah sakit.

Konsep yang dicetuskan oleh Leimena itu sendiri sudah berubah 180% sejak awal Orde Baru. Puskesmas sudah dimaknai sebagai balai pengobatan dan menunggu orang sakit datang berobat. Secara tertulis, ada program-program pencegahan, tapi tidak berjalan karena anggaran tidak tersedia. Penekanan kuratif malah semakin menonjol. Bahkan, adakalanya pemerintah daerah melihat puskesmas sebagai sumber pendapatan. Dengan begitu, bagi pemerintah daerah, semakin banyak warga yang sakit akan semakin baik, karena semakin besar pula retribusi untuk daerah.

Contoh Esai tentang Kesehatan

Judul: Pentingnya Gaya Hidup Sehat bagi Mahasiswa

Mahasiswa adalah sebutan bagi orang yang sedang menempuh pendidikan di sebuah perguruan tinggi yang terdiri atas sekolah tinggi, akademi, dan yang paling umum adalah universitas. Maka dari itu, mahasiswa dipandang bukan lagi sebagai anak kecil ataupun remaja, tapi mahasiswa sudah dipandang sebagai orang dewasa yang sudah memiliki pemikiran yang matang yang dapat membawa dirinya menuju arah yang lebih baik.

Segala sesuatu yang dilakukan oleh mahasiswa akan dinilai seberapa jauh kualitas sebagai seorang mahasiswa yang akan terjun langsung ke lapangan. Mahasiswa dituntut untuk selalu memiliki akademik yang tinggi, melainkan juga harus memiliki kesehatan yang prima sebagai penunjang karir kedepannya. Jadi, akan lebih baik kita mempersiapkannya secara matang dengan membiasakan gaya hidup sehat untuk menunjang karir kita.

Gaya hidup sehat adalah membiasakan segala sesuatu yang membuat tubuh kita terhindar dari berbagai penyakit yang akan menurunkan kesehatan kita. Mahasiswa dapat menerapkan gaya hidup sehat dengan sederhana yaitu dengan cara mengatur pola makan kita dengan gizi yang seimbang.

Mahasiswa pada umumnya selalu memiliki pola makan yang tidak teratur akibat banyak kegiatan dan kesibukan yang lainnya. Tidak hanya itu, mahasiswa juga sebagian besar tidak pernah sarapan datang ke kampus. Dari sini dapat kita lihat, hal sesederhana itu dapat menunjang konsentrasi yang berpengaruh pada perkembangan bidang akademisnya. Hal ini dibuktikan dari riset para ahli dari University Wales bahwa sebanyak 22% lebih tinggi perkembangan akademiknya dibandingkan yang tidak sarapan.

Kemudian, kritislah dalam hal memilih makanan yang akan dikonsumsi. Biasanya mahasiswa dalam mengonsumsi makanan lebih menyukai makanan yang cepat saji. Hal ini dikarenakan efisiensi waktu dan juga mudah untuk dilakukan. Padahal tubuh kita membutuhkan asupan yang tidak sedikit agar gizi kita terpenuhi.

Hal ini juga dapat dilihat dari bersih tidaknya dalam pengolahan makanan. Makanan yang diolah dengan cara yang tidak bersih dapat membuat kita mengalami gangguan pencernaan, seperti diare. Maka dari itu, lebih jeli dalam memilih makanan dan makanan yang sesuai dengan porsi gizi tubuh. Ataupun jika ingin lebih terjamin mutu gizi dan kesehatannya memasak makanan yang akan dikonsumsi sendiri.

Selanjutnya menjaga kesehatan dengan berolahraga. Mahasiswa pada umumnya sangat jarang sekali berolahraga. Hal ini dikarenakan kesibukan yang tanpa henti kemudian setelah sibuk usai timbullah kelelahan dan ditutup dengan tidur. Maka mahasiswa dapat dikatakan sangat jarang berolahraga. Padahal olahraga itu dapat membuat tubuh menjadi fit dan bersemangat serta menjauhkan diri kita dari segala macam penyakit karena dapat menjaga daya tahan tubuh.

Bagi mahasiswa yang tidak memiliki waktu untuk berolahraga, dapat berolahraga sederhana seperti, menaiki dan menuruni tangga di kampus dan jalan kaki kurang lebih 2 sampai 3 kilometer setiap hari. Itu juga sudah dapat membangkitkan daya tahan tubuh.

Yang terakhir adalah menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang terkadang dianggap sepele. Misalnya, makan atau ngemil sambil tiduran, minum sambil berdiri dan terkhusus lagi bagi laki-laki yaitu merokok.

Makan atau mengemil sambil tiduran dapat mengakibatkan asam lambung menjadi naik dan dapat membuat perut menjadi begah, minum sambil berdiri dapat mengakibatkan kenaikan asam lambung dan melukai dinding lambung, menganggu proses penyaringan yang dilakukan ginjal sehingga berpotensi terjadinya gangguan saluran kandung kemih dan dapat berisiko terkena artritis akibat terganggunya keseimbangan cairan dalam tubuh yang tersalurkan hingga bagian sendi.

Kebiasaan-kebiasaan diatas meski terlihat sepele tapi dapat mengakibatkan penyakit yang serius. Maka sebagai mahasiswa yang berprestasi hendaklah menyayangi diri sendiri sebagai penunjang karir di masa depan dan memiliki akademik yang baik dengan menerapkan hidup sehat. Jadi, mulai sekarang biasakan gaya hidup sehat dan jadilah mahasiswa yang berprestasi dan memiliki karir yang baik.

Contoh Teks Kritik Novel

Judul Buku: Negeri 5 Menara
Pengarang: A. Fuadi
Penerbit: Gramedia
Jumlah Halaman: 423 Halaman
Harga: Rp. 50.000

Novel ini berkisah tentang seorang anak MTsN yang dipaksa masuk ke pondok pesantren oleh orang tuanya, kemudian diwajibkan mengikuti aturan-aturan pondok, dimana bila melanggar maka hukumannya adalah malah dia sendiri yang disuruh mencari kesalahan orang kemudian dicatat dalam kartu khusus.

Nama anak itu Alif Fikri, dia adalah salah satu penghuni Pondok Madani yang mengalami kejadian itu, menjadi jasus atau mata-mata di dalam pondok karena tanpa sengaja terlambat 5 menit datang ke masjid bersama 5 temannya Raja, Said, Dulmajid, Atang dan Baso.

Masuk pondok pesantren bukanlah sepenuhnya kemauan Alif, setelah lulus dari Madrasah Tsanawiyah Alif bercita-cita untuk melanjutkan sekolah SMA, tapi karena orang tuanya ingin agar anaknya menjadi seperti Buya Hamka, walau Alif sendiri ingin menjadi seperti Habibie mau tidak mau, dengan setengah hati Alif mengikuti kemauan orang tua.

Kisah Alif Fikri yang tinggal di pondok, membuat pembaca mengetahui bahwa bersekolah di pondok itu tidak monoton belajar tentang agama, membaca dan menghafal Al Qur’an saja, tetapi lebih kepada penerapan kehidupan sehari-hari seperti sekolah umum lainnya dengan tetap mengedepankan dasar/ syariat agama Islam.

Di novel ini diceritakan bahwa tinggal di pondok selain bisa tetap menyalurkan hobi, Alif dan kelima temannya juga dapat mengasah kemampuannya. Seperti halnya Baso yang datang ke Pondok dengan niat menghafal Al-Qur’an, maka selain mengikuti kegiatan pelajaran umum, kemana-mana dia juga membawa buku favoritnya yakni Al-Qur’an.

Begitu pun Alif, meski memiliki ukuran tubuh tidak terlalu tinggi seperti kebanyakan pemain sepak bola, Alif masih bisa menyalurkan bakat bermain sepak bolanya walau setiap bertanding hanya pasrah sebagai pemain cadangan.

Novel Negeri 5 Menara ini dibungkus dengan bahasa yang mudah dipahami. Bahasanya tidak membingungkan pembaca. Bila pembaca bingung membayangkan pada bab ke-4 yang berjudul ‘Kampung di atas Kabut’ yang menceritakan seluk beluk dalamnya Pondok Madani, maka di buku itu telah dilengkapi sketsa peta atau tata letak gedung di dalam Pondok. Sayangnya peta itu tidak dibuatkan halaman tersendiri tetapi ditaruh di bagian belakang cover. Maka bila buku itu tidak disampul rapi, siap-siap saja peta itu akan kabur dari penglihatan.

Novel ini memperkenalkan mantra rahasia ‘Man Jadda Wajada’. Sebuah pepatah Arab yang berarti, “siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkannya”. Pesan itu disampaikan lewat pelajaran yang diperoleh para tokoh dalam novel. Pelajaran bahwa apa pun mungkin diraih selama didukung usaha dan doa. Jangan pernah remehkan mimpi, setinggi apapun. Sungguh Tuhan Maha Mendengar.

Membaca novel ini bagaikan menikmati laporan jurnalistik seorang wartawan kawakan. Begitu detail. Beberapa nama tempat dan fakta yang disebut otentik. Kita seperti dibawa bertamasya secara spiritual, dari Bukittinggi yang permai hingga Washington yang bersalju. Dari Pondok Madani yang ajaib hingga Trafalgar Square yang meremangkan bulu roma.

Novel Negeri 5 Menara ini sangat cocok menjadi panduan orang tua yang sedang bingung memasukkan putra-putrinya dalam melanjutkan sekolah ke tingkat lebih tinggi. Barangkali saja, dengan membaca novel ini para orang tua bisa dengan serta merta membuang image buruk tentang sekolah agama, yaitu pondok pesantren.

Dan barangkali saja dengan membaca kisah sukses Alif menjalani kehidupan yang jauh dari orang tua, seorang anak bisa lebih hidup mandiri dengan kemampuannya sendiri dengan pegangan mantra sakti ‘Man Jadda Wajada’. Bagi murid yang sedang menimba ilmu baik yang dipondok maupun di sekolah umum, buku ini juga bisa digunakan pegangan karena di dalam buku itu menyimpan banyak tips dan trik ketika menghadapi ujian.

Sayangnya buku ini terbit setelah Laskar Pelangi jadi terkesan agak ‘membuntuti’, bahkan bisa dibilang bahwa nilai yang diangkat sangat mirip dengan Laskar Pelangi. Selain itu, latar novel ini juga sedikit mirip dengan latar Harry Potter, tapi pengarang berhasil menghantarkan begitu banyak detail, dari sekolah PM Madani sampai keseharian masing-masing sahibul menara plus keseluruhan penduduk pondokan.

Negeri 5 Menara menampilkan sisi kehidupan berbeda yang mungkin tidak pernah kita tahu, kehidupan pondok dan pola pendidikan di sana. Selain itu, Negeri 5 Menara juga menampilkan sisi-sisi manusiawi yang sering kita rasakan, dan di sini kita akan mendapatkan sebuah solusi yang bijaksana yang mungkin bisa menginspirasi kita. Yang jelas novel ini sangat cocok untuk para pemimpi sejati.

Cukup sekian ulasan tentang contoh teks kritik dan esai yang disajikan oleh Pelajarin.com. Semoga informasi di atas dapat bermanfaat, ya. Selamat mengerjakan tugas!

Referensi: berbagai sumber.

Contoh Teks Eksemplum

Contoh Teks Eksemplum Beserta Stukturnya

Cari referensi contoh teks eksemplum? Barangkali 8 contoh yang ada di artikel ini dapat membantumu. Cekidot!

Contoh Teks Pranatacara

Contoh Teks Pranatacara Bahasa Jawa untuk Berbagai Keperluan

Tengah mencari contoh teks pranatacara? Yuk, simak 5 contohnya yang disajikan dalam bahasa Jawa dari Pelajarin berikut ini.

Contoh Teks Persuasif Singkat

5 Contoh Teks Persuasif Singkat yang Bisa Dijadikan Referensi

Kamu membutuhkan contoh teks persuasif? Yuk, simak beberapa referensinya yang ditulis secara singkat pada artikel ini.

Yuk Diskusikan di Komentar